Image description
Image captions

Warganet (netizen) penghina Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bernama Zikria ditangkap polisi. Usut punya usut, Zikria menghina Risma karena tidak terima Gubernur Jakarta Anies Baswedandi-bully dan dibanding-bandingkan dengan Risma.

Yang lebih mencengangkan lagi, Zikria bukan orang Jakarta dan bukan juga orang Surabaya. Zikria adalah orang Bogor Jawa Barat yang bersimpati kepada Anies. Pelapor Zikria ke polisi adalah pihak yang menamakan dirinya sebagai Forum Arek Suroboyo Wani. Gejala fanatisme politik macam apa ini?

"Saya kira ini ada perebutan pemilih oleh elite politik, memperebutkan suara untuk 2024," kata pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, kepada wartawan, Selasa (4/2/2020).

Hasil peneropongan Rico, dinamika politik yang menyeret emosi non-elite sebenarnya akan bermuara ke Pilpres 2024. Pangkalnya tetap tersangkut di puing-puing persaingan Pilpres 2019.

"Ada mantan pemilih Jokowi dan mantan pemilih Prabowo yang diperebutkan untuk suara di 2024. Semuanya kini memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memobilisasi opini. Simpatisan kemudian terbawa arus mobilisasi opini. Stimulan opini tetap berasal dari elite," kata Rico.

Dia melihat pendukung Risma sebagian adalah pemilih Jokowi, sedangkan pendukung Anies adalah mantan pemilih Prabowo. Meski di tataran elite Jokowi dan Prabowo sudah akur, namun emosi masyarakat biasa tak bisa semudah itu berbalik sikap. "Risma sebentar lagi akan selesai masa jabatannya di Surabaya, yakni 2020. Anies tak sampai 2022 juga sudah selesai masa jabatannya di DKI," kata Rico.

Supaya masyarakat tak terbelah seperti Pilpres 2019, Rico menyarankan kepala daerah-kepala daerah lain maju ke Pilpres 2024 kelak dan mulai menyiapkan diri. Lepas dari itu, Rico menyoroti kasus Zikria sebagai kasus Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). UU itu disebutnya akan terus memakan korban. Dia menyarankan pejabat agar punya kuping agak tebal supaya tak terlalu latah lapor polisi bila mendengar kata-kata kasar.

"Ini adalah ekses dari kompetisi politik dan perangkat hukum," kata Rico.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Kelompok Diskusi Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Kunto Adi Wibowo, memberikan telaah yang lebih jauh. Bila Rico Marbun menarik fanatisme pendukung Anies vs pendukung Risma sampai Pilpres 2019, Kunto menarik akar fanatisme ini bahkan sampai Pilpres 2014.

"Kampret sudah berevolusi jadi kadrun, cebong-pun juga sudah berevolusi. Ini adalah drama Cebong vs Kampret Season 3," kata Kunto.

Fanatisme ini terbentuk karena saking serunya Jokowi dan Prabowo bersaing di Pilpres. Meski Jokowi dan Prabowo sudah berrekonsiliasi, namun fanatisme di kalangan pendukung sudah kadung meresap ke relung-relung ruang bawah sadar masyarakat. Isu politik sudah masuk ke isu identitas.

"Ini bukan hanya masalah gagasan, tapi sudah masuk ke isu identitas. Ini seperti kanker, seperti virus, ini bukan virus corona tapi virusnya susah dihilangkan meski Jokowi dan Prabowo sudah akur," kata dia.

Asumsi yang mendasari persaingan ini adalah pengalaman politik Gubernur DKI pendahulu Anies, yakni Jokowi sendiri. Seolah-olah, seorang tokoh yang sudah menduduki kursi Gubernur DKI bakal langsung lanjut ke kursi Presiden RI. Maka pihak yang bukan pendukung Anies berpikir, harus ada sesuatu yang menghalangi sejarah itu terulang kembali.

"Antitesisnya adalah Risma. Keduanya sama-sama kepala daerah meski berbeda level, namun Surabaya dan Jakarta adalah dua kota besar di Indonesia. Terlebih lagi dua orang ini berasal dari dukungan partai berbeda," kata Kunto.0 dtk