Image description
Image captions

Anggota DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak pesimis terhadap kemampuan Pemerintah Provinsi DKI jika kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Anggaran yang dimiliki DKI dianggap tidak mampu menghidupi warga.

Wacana PSBB dinyatakan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui video yang diunggah melalui channel Youtube Pemprov DKI, Minggu (12/7).

Anies mengatakan jika lonjakan kasus di DKI terus meningkat tajam, pihaknya akan mengambil langkah rem darurat, alias PSBB kembali diberlakukan.

"Gimana mau tarik rem, memangnya duitnya ada? Sekarang minta duit ke pemerintah pusat," kata Gilbert, Senin (13/7).

Politikus PDIP yang pernah berkecimpung di World Health Organization (WHO) itu menganggap sejatinya Pemprov mampu menghidupi warga Jakarta jika anggaran untuk Formula E ditarik.

Ia menambahkan, jika pengeluaran DKI tidak ditarik, mustahil bagi Pemprov menerapkan PSBB. Selain morat maritnya anggaran, Gilbert menilai penerapan PSBB sulit diberlakukan kembali.

Dengan tipikal masyarakat Jakarta, Gilbert pesimis aturan dan sanksi PSBB berjalan dengan baik.

"Emangnya masyarakat mau? Enggak gampang loh," tandasnya.

Berbeda dengan Gilbert, politikus PAN DKI Jakarta, Zita Anjani meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berani untuk kembali menerapkan PSBB jika kasus Covid-19 di ibu kota terus melonjak. Menurutnya, hal wajar jika Pemprov melonggarkan dan membatasi aktivitas warganya selama pandemi belum terkendali.

"Kalau jumlah penyebaran naik, kita harus berani untuk tutup lagi, namanya juga transisi," ujar Zita.

Ia mengingatkan Pemprov untuk tetap mengedepankan keselamatan warganya, pun tidak mengorbankan ekonomi lebih dalam. Untuk itu, buka tutup PSBB selama pandemi patut diterapkan oleh Pemprov DKI.

Selama itu pula, imbuhnya, sosialisasi tentang bahaya virus Corona tetap wajib disampaikan oleh Pemprov DKI.

"Memang test rate harus tinggi. Persepsi soal bahaya Covid-19 juga harus tinggi di masyarakat," tuturnya.

Diketahui bahwa lonjakan kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta hari Minggu 12 Juli mencetak rekor, yaitu 404, sehingga akumulasi infeksi Covid-19 di Jakarta sebanyak 14.361 kasus. Gubernur Anies Baswedan memberi sinyal akan melakukan rem darurat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi jika peningkatan kasus terus merangkak naik secara signifikan.

"Saya ingatkan kepada semua, jangan sampai situasi ini jalan terus sehingga kita harus menarik rem darurat atau emergency break," kata Anies yang dikutip melalui channel Youtube Pemprov DKI, Minggu (12/7).

Rem darurat yang dimaksud Anies adalah kondisi awal saat PSBB diberlakukan. Seluruh aktivitas ekonomi, sosial, keagamaan, dihentikan sementara di luar rumah.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menuturkan, tingginya angka kasus positif Covid-19 di DKI selaras dengan masifnya pelacakan yang dilakukan Pemprov. Bahkan, jika merujuk standar World Health Organization (WHO), Anies mengklaim bahwa Jakarta telah melampaui standar dalam hal pelacakan dan tes kepada warganya.

"404 kasus baru tidak boleh dianggap enteng. Memang sebagian besar dari penambahan kasus harian ini adalah karena gencarnya kita melakukan yang disebut sebagai aktif case finding," tuturnya.

"Saat ini, tes PCR di Jakarta per minggu itu sudah tiga kali lipat dari standar yang ditetapkan oleh WHO dan kita akan terus meningkatkan kapasitas testing kita bahkan tes PCR itu positif ratenya selama ini itu berkisar sekitar 5 persen, karena persyaratan atau yang ditetapkan sebagai standar dari WHO adalah diperlukan 1000 testing per satu juta penduduk dan positif," jelasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menuturkan, seiring dengan penambahan kasus positif, jumlah kesembuhan dari infeksi virus Corona di Jakarta juga meningkat. Dia menyebut 9.200 orang dinyatakan telah sembuh, sedangkan 702 orang meninggal dunia.

"Dari 14.361 kasus positif, sebanyak 9.200 orang dinyatakan telah sembuh, sedangkan 702 orang meninggal dunia," ujar Ani, Minggu (12/7).

Hingga Minggu (12/7) 554 pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 3.905 orang melakukan self isolation di rumah. Sedangkan, untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 355 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 734 orang.