Image description
Image captions
Image description
Image captions

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan banjir yang melanda 10 kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) diakibatkan karena curah hujan yang tinggi selama berhari-hari. 

 

 

"Curah hujan yang sangat tinggi hampir 10 hari berturut-turut sehingga daya tampung Sungai Barito yang biasanya menampung 230 juta meter kubik sekarang ini masuk air sebesar 2,1 miliar kubik air sehingga memang meluap di 10 kabupaten dan kota," kata Presiden Jokowi seperti dikutip dari Antara. 

 

Pernyataan dari Presiden Jokowi pun menuai banyak tanggapan dari masyarakat hingga sejumlah tokoh, salah satunya dari tokoh Papua, Christ Wamea. 

 

Menurut Christ Wamea, air hujan tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Air hujan bisa meluap sebanyak itu karena tak ada lagi tempat serapan. 

 

Hal tersebut lantaran sudah banyaknya lahan yang digunakan untuk pertambangan dan penebangan hutan di Kalsel. 

 

 

Tanggapan tersebut disampaikan Christ Wamea melalui akun Twitter pribadinya @PutraWadapi pada Selasa, 19 Januari 2021. 

 

“Datang ke Kalsel cuma salahkan hujan takut katakan bhw Banjir di Kalsel akibat Penambangan dan Penebangan,” kata Christ Wamea. 

 

Datang ke Kalsel cuma salahkan hujan takut katakan bhw Banjir di Kalsel akibat Penambangan dan Penebangan.— Christ Wamea (@PutraWadapi) January 18, 2021

  

Meski begitu, Christ Wamea memandang bahwa Presiden Jokowi sebagai seorang insinyur kehutanan pasti sudah memiliki solusi terbaik untuk mengatasi masalah banjir di Kalsel. 

 

“Seorang insinyur Kehutanan alumni UGM pasti sangat paham tentang fungsi hutan, erosi dan DAS. Dan juga hutan yg gundul dampak negatifnya apa. Stlh kunjungan pasti ada solusi terbaik utk mengatasi masalah bencana banjir di Kalsel jd kedepan sdh bisa teratasi,” ujar Christ Wamea. 

 

Seorang insinyur Kehutanan alumni UGM pasti sangat paham tentang fungsi hutan, erosi dan DAS. Dan juga hutan yg gundul dampak negatifnya apa. Stlh kunjungan pasti ada solusi terbaik utk mengatasi masalah bencana banjir di Kalsel jd kedepan sdh bisa teratasi.— Christ Wamea (@PutraWadapi) January 19, 2021

  

Seperti diketahui, hujan dengan intensitas sedang di Kalsel menyebabkan banjir sejak Selasa, 12 Januari 2021. Tercatat sebanyak 24.379 rumah terendam banjir dan 39.549 warga mengungsi. 

 

Terdapat korban meninggal dunia total sebanyak 15 orang dengan rincian, Kabupaten Tanah Laut 7 orang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah 3 orang, Kota Banjar Baru 1 orang, Kabupaten Tapin 1 orang, dan Kabupaten Banjar 3 orang. 

 

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir sejak 14 Januari 2021. 

 

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kalimantan Selatan masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang sedangkan musim hujan masih akan berlangsung hingga Februari 2021