Image description
Image captions

Polda Metro Jaya menyelidiki kasus mafia tanah yang diduga menjarah rumah korban senilai Rp 180 miliar di Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Saat ini polisi masih mengumpulkan bukti-bukti untuk menyelidiki kasus itu.

Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat mengatakan kasus itu sudah naik ke tingkat penyidikan. Polisi masih mengumpulkan bukti-bukti dan keterangan saksi-saksi untuk menetapkan tersangka dalam kasus itu.

"Masih pemeriksaan, sudah naik sidik, tersangkanya belum. Tapi peristiwanya sudah diduga ada pidana, makanya naik sidik, tapi untuk penentuan tersangkanya masih dalam rangka pengumpulan alat bukti," kata Tubagus, dilansir  detikcom, Rabu (3/3/2021).

Tubagus mengatakan modus operandi yang dilakukan para pelaku dalam kasus ini hampir sama dengan kasus-kasus sebelumnya yang ditangani Polda Metro Jaya.

"Pada dasarnya setiap kasus itu ada kemiripan, tapi nggak semua mirip, sifatnya punya karakter yang berbeda-beda," tuturnya.

Korban Dian Rahmiani sebelumnya melaporkan kasus mafia tanah pada 21 Januari 2021. Dalam laporan bernomor LP/366/I/YAN.2.5/2022/SPKT PMJ, korban melaporkan adanya peralihan hak kepemilikan atas sebidang tanah miliknya di Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

 

Baca juga:Polda Metro-Kementerian ATR Gelar Rakor, Bahas soal Mafia Tanah

Pengacara Dian, Hartanto, mengatakan pelaku berjumlah lima orang. Dari kelima pelaku, kata Haryanto, dua di antaranya sudah ada yang ditahan di kasus yang berbeda.

"Semuanya ada lima orang. Di sini jelas lima ini, ada dua yang sudah dulu ditahan, tapi dengan kasus yang berbeda. Tapi modusnya sama seperti ini," ujar Hartanto di Polda Metro Jaya, Rabu (24/2/2021).

Hartanto menyebutkan dua pelaku yang sudah ditahan tersebut berinisial GS dan HK. Sementara itu, untuk tiga orang lainnya yang masih berkeliaran, yakni YK, CR, dan MAR.

Sementara itu, Dian menjelaskan kasus itu bermula ketika mertua Dian, Danialinda, ingin menjual rumah beserta tanah di Jalan Kebon Sirih pada 2017. Para pelaku mendatangi korban dan mengaku sebagai pengusaha yang memiliki plafon di bank senilai Rp 250 miliar.

Mereka menawar rumah dan tanah korban senilai Rp 150 miliar dan akan dibayarkan sebanyak dua kali. Danialinda beserta keluarga kemudian setuju dengan penawaran HK dan GS itu, hingga akhirnya keduanya membujuk rayu korban untuk meminjamkan sertifikat tanah dan bangunan ke KY dengan alasan hendak dicek ke BPN.

Singkat cerita, hak atas kepemilikan tanah dan bangunan beralih kepada para pelaku. Atas hal itu, korban melapor ke Polda Metro Jaya.