Image description
Image captions

Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau yang sering disebut dengan istilah G30S PKI adalah tragedi mencekam yang pernah melanda masyarakat Indonesia pasca Kemerdekaan dulu.

 

 

Pemberontakan sekaligus pembantaian oleh para penggerak PKI telah menggemparkan Indonesia bahkan dunia. Gerakan itu terjadi pada 30 September sampai awal Oktober 1965.

 

Dalam tragedi G30S PKI terjadi penculikan, penyiksaan, pembunuhan bahkan penguburan tujuh orang perwira tinggi militer Republik Indonesia secara tidak pantas (tragedi Lubang Buaya).

 

Ke tujuh jendral yang menjadi korban kekejaman PKI adalah Jendral TNI Anumerta Ahmad Yani, Letnan Jendral R. Soeprapto, Letnan Jendral MT Haryono, Letnan Jendral S. Parman, Mayor Jendral Sutoyo Siswomiharjo, Kapten Pierre Andreas Tendean.

 

Tragedi itu membekas hingga saat ini. Pembahasan soal gerakan pengkhianatan dan kekejaman PKI itu terus menjadi topik hangat dan kajian yang bertujuan untuk mengetahui dan juga menghindari sikap-sikap komunis dan nilai-nilai perjuangan bangsa.

 

 

Sastrawan Indonesia Taufiq Ismail memberikan kesaksian tentang jejak langkah PKI yang bukan hanya melakukan kekejaman, melainkan sebagai kelompok yang juga tidak mengakui keberadaan Tuhan.

 

Hal itu disampaikan Taufiq Ismail saat diundang menjadi narasumber di YouTube Channel Fadli Zon Official, 28 September 2021.

 

Taufiq Ismail menyampaikan topik tentang ‘Matine Gusti Allah’ yang dilakukan oleh PKI. Ia mengatakan bahwa PKI melakukan tindakan keji yaitu melecehkan dan menajiskan Agama.

 

"Itu terjadi sekitar tahun 1963-1965. Dalam sejarah negeri kita ini, itu belum pernah terjadi pelecehan dan penghinaan kepada Tuhan dan menajiskan agama seperti yang dilakukan oleh PKI,” ujarnya.

 

Taufiq Ismail mengatakan bahwa PKI dulu sering mengadakan pementasan-pementasan tentang pelecehan terhadap Tuhan dan agama.

 

“Ada satu rangkaian pementasan-pementasan yang dilakukan dan itu yang sangat awal itu ada pertunjukan Ludruk, judulnya tidak tanggung-tanggung ‘Matine Gusti Allah’” ungkap Taufiq.

 

Pementasan yang dilakukan oleh PKI kala itu dilangsungkan selama sekitar 2 Jam di Desa Meronggo, Kediri, Jawa Timur pada tahun 1964.

 

“Di akhir pementasan PKI menyampaikan bahwa ‘Malam ini Allah sudah mati, besok tidak ada lagi Allah’” ucap Taufiq menirukan kata akhir pementasan Ludruk oleh PKI saat itu.

 

Pendustaan agama oleh PKI yang dilakukan melalui pementasan rupanya tidak hanya topik ‘Matine Gusti Allah’ tapi banyak. Diungkapkan Taufiq, PKI juga pernah mengangkat tema tentang Allah yang menikah, Gusti Allah jadi manten atau Gusti Allah jadi penganten.

 

Ada juga tema Rabine Gusti Allah-perkawinan Allah, Gusti Allah mantu-Allah bermenantu. “Kemudian Rabine Malaikat-malaikat nikah, Gusti Allah Bingung,” ujar Taufiq.

 

Menurut Taufiq, hal ini tentu tidak dibenarkan dalam ajaran islam dan pelecehan terhadap agama yang dilakukan PKI itulah bukti bahwa kelompok itu memang tidak bertuhan.

 

Taufiq Ismail mengungkapkan, pementasan tersebut dilakukan PKI dan kelompok Ludruk dari satu panggung ke panggung lainnya di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah selama tahun 1963-1965.