Image description
Image captions

Bharada E sudah menjalani asesmen atau penilaian psikologis yang ketiga kemarin. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyebut hasil pemeriksaan itu akan keluar sekitar 2 minggu lagi.


"Kalau menurut psikolog, dalam 2 minggu setelah pemeriksaan kemarin, akan dikeluarkan. Dan itu menjadi salah satu rujukan LPSK juga melihat situasi kondisi dari Bharada E seperti apa, termasuk juga berhubungan dengan peristiwa," papar Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi di kantor LPSK, Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (3/8/2022).

Edwin mengatakan Bharada E sudah menjalani penilaian psikologis selama tiga kali. Pertama pada Jumat (29/7), dilanjutkan pada Senin (1/8) dan Selasa (2/8).

Ia menyebut asesmen ketiga Bharada E dilakukan sejak pukul 10.00 sampai 14.00 WIB. Dipotong jeda istirahat 30 menit.

Kuasa hukum Bharada E, Andreas, membenarkan kliennya datang bersama rombongan untuk melakukan pemeriksaan. Dia menyebut pihaknya kini menunggu hasil asesmen psikologis yang telah dijalani Bharada E.

"Bharada E-nya selalu ada (hadir), karena setiap asesmen dilakukan kepada yang bersangkutan langsung, jadi sudah tiga kali asesmen. Dan sekarang kita tinggal menunggu hasil dari psikolog dan berdasarkan hasil dari psikolog, apakah bisa diberi perlindungan atau tidak," ungkapnya.

Alasan Bharada E Ajukan Permohonan Perlindungan

Sebelumnya, pengacara Bharada E, Andreas Nahot Silitonga, mendatangi kantor Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Senin (1/8). Dalam kunjungannya, ia mengungkapkan alasan Bharada E mengajukan permohonan perlindungan LPSK.

"Sifatnya preventif, kalau masalah ancaman secara langsung, mungkin masih kami bicarakan. Sifatnya nggak semua hal bisa diungkapkan ke media karena ranah keselamatan jiwa," papar Andreas di kantor LPSK.

Andreas menyebut pengajuan permohonan merupakan langkah pencegahan jika di kemudian hari ada hal yang tak diinginkan. Ia juga menyinggung soal proses hukum yang panjang.

"Kami hanya bisa berikan statement ini langkah preventif. Jangan sampai ada hal tak diinginkan. Karena kan ini mencakup juga sebuah institusi besar, sebuah proses hukum yang panjang," sambungnya.

Andreas juga berbicara terkait pendapat kuasa hukum keluarga Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat yang dianggap tak sesuai dengan kapasitas. Ia mengangkat pernyataan yang beredar.

"Kalau kami menilai, apa yang dilakukan keluarga korban atau penasihat hukumnya, ini sudah jauh lebih dari menghakimi, sudah seperti putusan hakim," ungkap Andreas.

Andreas menyatakan baku tembak yang dilakukan Bharada E merupakan bentuk perlindungan diri. Di sana ada seseorang yang dilindungi, yakni istri Irjen Ferdy Sambo.

"Orang seperti Richard, Bharada E, itu kalau ada dia dalam keluarga kami, orang seperti itu dia adalah pahlawan. Dia sudah selamatkan istri dan kita nggak tahu lagi korban-korban yang bisa timbul kalau dia tidak menghentikan atau lakukan upaya-upaya pada saat itu perlu dilakukan," paparnya.