Image description
Image captions

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo mengaku tak heran dengan hasil survei terkait tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi kepada kinerja pemerintah Jokowi-Maruf. Adapun teranyar, hasil Survey Poltracking Indonesia terkait politik ekonomi Indonesia di akhir tahun 2022 ini menunjukkan 73,2% masyarakat puas terhadap kinerja pemerintah Jokowi-Maruf.

"Ini bagi saya bukan sesuatu yang mengherankan, artinya saya tidak terkejut," ujar pria yang akrab disapa Bamsoet dalam Rilis Survey Nasional Poltracking Indonesia secara virtual, Kamis (8/12).

Menurut Bamsoet, capaian tingkat kepuasan publik yang tinggi terhadap pemerintahan Jokowi-Maruf tidak lepas dari segudang prestasi yang dilakukan pemimpin negara. Ia menyebut prestasi Presiden sudah terbukti mulai dari sukses menghadapi Covid-19 hingga lancarnya pelaksanaan KTT G20 di Bali.

"Berbagai kebijakan ekonomi juga baik sehingga kita mampu bertahan di pertumbuhan 5%," ucapnya.

Selain itu, Bamsoet memuji sikap Jokowi yang dinilai sigap menghadapi persoalan mendesak seperi bencana alam dan sebagainya. "Artinya Jokowi dalam penilaian saya memiliki sign of crisis yang tinggi dibandingkam pemimpin yang lain," tuturnya.

Kendati, Bamsoet berharap agar capaian tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah juga mencerminkan keinginan publik yang sesungguhnya kepada pemerintah. Ia pun menyinggung soal keinginan publik agar Jokowi meneruskan kepemimpinannya di republik ini.

"Bukan soal puas dan tidak puasnya publik, tapi apakah ini berkorelasi dengan keinginan publik untuk terus presiden Jokowi memimpin kita semua?" ucapnya.

Bamsoet berujar bahwa pemerintahan Jokowi-Maruf sesungguhnya telah kehilangan kesempatan selama dua tahun untuk menunjukkan peforma terbaiknya. Hal itu, kata dia, akibat pandemi Covid-19 membuat lini kehidupan masyarakat dan pemerintahan tidak berjalan secara normal.

Ia mengakui ihwal pro-kontra perpanjangan masa kepemimpinan Jokowi hingga tiga periode sangat deras di masyarakat.

Bamsoet pun langsung membandingkan kondisi ekonomi Inggris yang ambruk pasca-gejolak politik di negara tersebut. Ia menyebut peralihan perdana menteri di Inggris justru memicu trend ekonomi di sana merosot hingga susah payah untuk pulih kembali.

"Apakah kepuasan ini ada korelasinya dengan keinginan masyarakat agar beliau tetap memimpin kita untuk melewati masa transisi ini?" imbuhnya.

Membandingkan dengan Inggris yang hanya mengandalkan pajak sebagai penghasilan negara memang tidak tepat. Indonesia ditopang oleh penduduk yang besar sehingga roda perekonomian terus berputar khususnya untuk kebutuhan konsumsi, meskipun krisis.  

Sumber: gatra